Verihubs Logo
Home Blog Akun Fake Adalah: Ciri dan Cara Mendeteksinya
11 min read KYC Published on August 21, 2026

Akun Fake Adalah: Ciri dan Cara Mendeteksinya

Akun Fake Adalah: Ciri dan Cara Mendeteksinya

Akun fake adalah akun yang dibuat menggunakan identitas yang bukan milik pendaftarnya. Identitas tersebut bisa berupa identitas orang lain, identitas hasil rekayasa, atau gabungan data asli dan data fiktif. Dalam konteks media sosial, akun fake mungkin terlihat seperti masalah profil atau aktivitas pengguna. Namun bagi bank digital, fintech, e-wallet, lending, dan marketplace, risikonya jauh lebih besar.

Akun palsu bisa digunakan untuk menipu pengguna lain, menampung dana hasil penipuan, membuat akun secara massal, mengajukan pinjaman dengan identitas yang tidak valid, sampai mengeksploitasi promo dan insentif platform.

Karena itu, akun fake sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai masalah yang harus dibersihkan setelah akun aktif. Bagi tim Fraud dan Risk, titik pencegahan yang paling penting justru ada di proses onboarding, sebelum akun tersebut mendapatkan akses ke layanan.

Akun Fake Adalah Akun dengan Identitas yang Bukan Miliknya

Akun fake adalah akun yang dibuat menggunakan identitas yang tidak sah dimiliki oleh orang yang melakukan pendaftaran. Dalam praktiknya, bentuknya tidak selalu sama. Untuk tim Fraud dan Risk, membedakan jenisnya penting karena setiap jenis membutuhkan kontrol yang berbeda.

Pertama, ada akun dengan identitas fiktif. Pelaku membuat persona baru menggunakan data yang sebagian atau seluruhnya tidak benar. Pola seperti ini lebih mudah ditemukan jika sistem memiliki validasi identitas yang memadai.

Kedua, ada akun yang menggunakan identitas orang lain. Dalam kasus ini, data dan dokumen yang digunakan bisa saja asli. Masalahnya adalah orang yang melakukan pendaftaran bukan pemilik identitas tersebut. Ini termasuk bentuk identity fraud.

Ketiga, ada identitas sintetis. Pelaku menggabungkan sejumlah data yang benar dengan informasi yang dibuat-buat untuk membentuk identitas baru. Karena sebagian datanya terlihat valid, pola ini bisa lebih sulit dikenali jika proses onboarding hanya mengandalkan pemeriksaan dokumen.

Akun fake juga perlu dibedakan dari account takeover. Pada akun fake, masalahnya sudah terjadi sejak proses pendaftaran. Sementara pada account takeover, akun awalnya merupakan akun yang sah lalu diambil alih oleh pihak lain. Karena karakteristik serangannya berbeda, kontrol yang dibutuhkan juga berbeda. Account takeover lebih berkaitan dengan pengamanan akun setelah pengguna berhasil melakukan onboarding.

Ciri Akun Palsu yang Bisa Dilihat Pengguna dan Sistem

Kalau membahas ciri akun fake, kebanyakan orang langsung melihat profil pengguna. Misalnya foto profil terlihat tidak natural, aktivitas akun sangat sedikit, atau pola posting terlihat berulang.

Untuk kebutuhan bisnis, pendekatan seperti ini belum cukup.

Tim Fraud justru perlu melihat sinyal yang muncul ketika seseorang melakukan pendaftaran. Beberapa sinyal bahkan tidak akan terlihat dari profil pengguna, tetapi bisa menjadi indikator kuat bahwa satu orang sedang mencoba membuat banyak akun.

LapisanContoh sinyalNilai untuk deteksi
Terlihat penggunaFoto profil mencurigakan, aktivitas sangat sedikit, pola tulisan berulang, jumlah pengikut tidak wajarBerguna untuk edukasi dan moderasi, tetapi relatif mudah dimanipulasi
Terlihat sistemSatu perangkat digunakan untuk mendaftarkan banyak identitas, proses pendaftaran terlalu cepat, data dokumen tidak konsistenLebih kuat untuk fraud detection dan dapat diproses secara otomatis
Terlihat biometrikWajah yang sama terhubung dengan beberapa identitas, selfie menggunakan foto atau layar, wajah tidak cocok dengan dokumenDapat mengungkap pola fraud yang sulit ditemukan hanya dari data dokumen

Perbedaan ini penting dalam desain sistem. Sinyal yang terlihat oleh pengguna bisa membantu edukasi dan moderasi. Namun sinyal dari perangkat, dokumen, dan biometrik dapat digunakan sebagai bagian dari automated decisioning untuk menahan pendaftaran yang berisiko sebelum akun aktif.

Tiga Modus Pembuatan Akun Fake pada Onboarding Digital

Akun fake dapat dibuat dengan berbagai cara. Namun dalam proses onboarding digital, ada beberapa pola yang perlu menjadi perhatian tim Fraud dan Risk.

1. Pendaftaran Banyak Akun dari Satu Operator

Pelaku mencoba membuat banyak akun menggunakan kumpulan identitas yang berbeda. Dokumen yang digunakan bahkan bisa saja merupakan dokumen asli. Masalahnya bukan lagi sekadar valid atau tidaknya dokumen, tetapi pola di balik proses pendaftarannya.

Contohnya, satu perangkat digunakan untuk mendaftarkan banyak identitas dalam waktu relatif singkat. Jika sistem hanya memeriksa apakah setiap dokumen terlihat valid, pola ini bisa terlewat.

Karena itu, data perangkat dan pola pendaftaran dapat menjadi sinyal tambahan untuk mendeteksi aktivitas yang tidak wajar.

2. Dokumen Asli, tetapi Wajah Berbeda

Pada modus ini, pelaku menggunakan dokumen identitas milik orang lain yang valid, kemudian melakukan selfie menggunakan wajahnya sendiri.

Jika proses onboarding hanya membaca data KTP menggunakan OCR, sistem dapat mengetahui nama, NIK, dan informasi lain pada dokumen. Namun OCR tidak dapat memastikan bahwa orang yang sedang mendaftar adalah pemilik identitas tersebut.

Di sinilah face matching diperlukan. Sistem membandingkan wajah pada selfie dengan foto yang terdapat pada dokumen identitas untuk memastikan keduanya sesuai.

3. Menggunakan Foto, Video, atau Media yang Dimanipulasi

Face matching saja masih memiliki celah. Pelaku dapat mencoba mengarahkan kamera ke foto cetak, foto pada layar, atau video yang menampilkan wajah orang lain.

Jika sistem hanya melihat kemiripan wajah, hasilnya bisa saja tetap terlihat meyakinkan. Karena itu, proses onboarding membutuhkan liveness detection untuk memastikan bahwa wajah yang diperiksa berasal dari orang yang benar-benar hadir di depan kamera, bukan sekadar representasi wajah dari media lain.

Ketiga modus tersebut menunjukkan satu hal penting. Risiko akun fake sebaiknya ditangani ketika proses pendaftaran berlangsung. Setelah akun aktif, penanganannya menjadi lebih mahal karena sudah melibatkan transaksi, customer support, investigasi fraud, dan proses remediasi.

Dampak Akun Fake bagi Bank Digital, Fintech, dan Marketplace

Dampak akun fake berbeda-beda tergantung model bisnis, tetapi semuanya memiliki konsekuensi operasional dan finansial.

Pada bank digital dan e-wallet, akun palsu dapat digunakan sebagai rekening penampung dana hasil penipuan. Ketika kasus terjadi, perusahaan tidak hanya perlu menangani transaksi bermasalah, tetapi juga melakukan investigasi, memblokir akun, menindaklanjuti laporan, dan melakukan proses yang berkaitan dengan kepatuhan.

Dalam sektor jasa keuangan, proses mengenali dan memverifikasi calon nasabah juga merupakan bagian penting dari penerapan program APU, PPT, dan PPPSPM sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 8 Tahun 2023. Karena itu, akun palsu yang berhasil melewati proses onboarding bukan hanya persoalan fraud, tetapi juga dapat menjadi persoalan compliance.

Pada lending dan paylater, akun fake dapat digunakan untuk mengajukan pinjaman menggunakan identitas yang bukan milik pelaku atau identitas yang direkayasa. Selain potensi kerugian kredit, data tersebut juga dapat memengaruhi kualitas data yang digunakan dalam model risk scoring.

Sementara pada marketplace, akun penjual palsu dapat digunakan untuk menjalankan penipuan terhadap pembeli. Dampaknya bisa berupa dispute, refund, biaya investigasi, hingga penurunan kepercayaan pengguna terhadap platform.

Ada pula risiko terkait data pribadi. Ketika identitas seseorang digunakan oleh pihak lain untuk membuat akun, perusahaan perlu memastikan proses pemrosesan data pribadi tetap memiliki dasar yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.

Kontrol deteksi akun fake pada alur pendaftaran bank digital dan e-wallet

Cara Mendeteksi dan Mencegah Akun Fake Saat Pendaftaran

Tidak ada satu teknologi yang bisa mendeteksi seluruh jenis akun fake. Setiap kontrol memiliki fungsi dan batasannya masing-masing.

OCR KTP, misalnya, berguna untuk membaca informasi dari dokumen secara otomatis dan mempercepat proses pengisian data. Namun OCR tidak membuktikan bahwa dokumen tersebut benar-benar milik orang yang sedang melakukan pendaftaran.

Karena itu, data pada dokumen perlu divalidasi dan, jika tersedia, dicocokkan dengan sumber data yang relevan. Tahap ini membantu memastikan bahwa identitas yang diklaim memang valid dan informasi yang diberikan konsisten.

Selanjutnya, face matching digunakan untuk membandingkan wajah pada selfie dengan foto pada dokumen. Kontrol ini menjawab pertanyaan yang berbeda, yaitu apakah orang yang sedang melakukan onboarding memiliki wajah yang sesuai dengan identitas yang diklaim.

Liveness detection kemudian menambahkan lapisan untuk memastikan bahwa wajah tersebut benar-benar berasal dari orang yang hadir di depan kamera, bukan foto, video, atau media lain.

Untuk mendeteksi pendaftaran massal, deduplikasi wajah juga dapat digunakan. Sistem dapat memeriksa apakah wajah yang sama sebelumnya sudah terhubung dengan identitas lain. Jika satu wajah muncul pada banyak identitas berbeda, pola tersebut dapat menjadi sinyal risiko yang perlu ditindaklanjuti.

Urutan kontrol juga perlu dipertimbangkan. Tidak semua pemeriksaan harus dijalankan dengan cara yang sama pada setiap pengguna. Kontrol yang lebih ringan dan cepat dapat ditempatkan lebih awal, sementara pemeriksaan biometrik atau pemeriksaan tambahan dapat digunakan sesuai tingkat risiko.

Tujuannya bukan sekadar menambah sebanyak mungkin layer verifikasi. Tujuannya adalah mendapatkan keseimbangan antara fraud prevention, conversion rate, user experience, dan biaya verifikasi.

Bagaimana Verihubs Mendeteksi Akun Fake

Verihubs membantu bisnis menempatkan kontrol identitas pada tahap onboarding sehingga risiko akun fake dapat ditangani sebelum akun aktif.

OCR KTP digunakan untuk membaca data dari dokumen identitas. Face Recognition kemudian mencocokkan selfie dengan foto pada dokumen. Menurut data resmi Verihubs 2026, Face Recognition memiliki akurasi 99,9%.

Liveness Detection menambahkan pemeriksaan untuk mendeteksi presentation attack, termasuk upaya menggunakan foto atau media lain sebagai representasi wajah pengguna.

Verihubs juga menyatakan sebagai satu-satunya penyedia asal Indonesia yang memiliki sertifikasi NIST Presentation Attack Detection. Sertifikasi ini relevan untuk kebutuhan bisnis yang ingin memastikan kontrol biometrik tidak hanya mengandalkan hasil face matching.

Selain digunakan saat onboarding, pemeriksaan biometrik juga dapat dipanggil kembali pada momen tertentu, misalnya ketika pengguna melakukan login atau transaksi yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi.

Menurut data resmi Verihubs 2026, sistem Verihubs memproses rata-rata 500.000 verifikasi identitas per hari untuk lebih dari 400 klien di sektor seperti perbankan, fintech, asuransi, dan bursa kripto.

Untuk perusahaan yang memiliki volume onboarding tinggi, kombinasi pemeriksaan dokumen, face matching, liveness detection, dan deduplikasi dapat membantu membangun kontrol yang lebih kuat tanpa menjadikan seluruh proses onboarding sebagai proses manual.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Akun Fake

Akun fake itu artinya apa?

Akun fake artinya akun yang dibuat menggunakan identitas yang bukan milik orang yang melakukan pendaftaran. Identitas tersebut bisa berupa identitas fiktif, identitas orang lain, atau kombinasi data asli dan data yang direkayasa.

Apa ciri-ciri akun palsu?

Dari sisi pengguna, cirinya dapat berupa foto profil yang mencurigakan, aktivitas yang sangat sedikit, atau pola aktivitas yang tidak natural. Dari sisi sistem, sinyal yang lebih kuat antara lain satu perangkat digunakan untuk mendaftarkan banyak identitas, data dokumen tidak konsisten, atau wajah yang sama muncul pada beberapa identitas.

Apa bedanya akun fake dengan account takeover?

Akun fake sudah bermasalah sejak proses pendaftaran karena identitas yang digunakan tidak sesuai dengan orang yang mendaftar. Account takeover berbeda karena akun awalnya merupakan akun yang sah, kemudian diambil alih oleh pihak lain.

Karena itu, akun fake lebih banyak dicegah melalui identity verification dan kontrol onboarding, sedangkan account takeover membutuhkan kontrol autentikasi dan keamanan akun.

Apakah verifikasi nomor HP cukup untuk mencegah akun fake?

Tidak. Verifikasi nomor HP hanya menunjukkan bahwa seseorang memiliki akses ke nomor tersebut. Nomor dapat dipinjam, dibeli, atau digunakan oleh pihak lain. Untuk memastikan identitas pengguna, perusahaan membutuhkan kontrol yang menghubungkan data identitas dengan dokumen dan biometrik.

Bagaimana cara mendeteksi akun fake secara otomatis?

Deteksi dapat dilakukan dengan menggabungkan pemeriksaan dokumen, validasi data identitas, face matching, liveness detection, dan deduplikasi wajah. Sistem kemudian dapat menggunakan hasil pemeriksaan tersebut sebagai bagian dari risk decision untuk menentukan apakah pendaftaran dapat dilanjutkan, perlu pemeriksaan tambahan, atau harus ditahan.

Lebih Baik Mencegah Akun Fake Saat Onboarding daripada Membersihkannya Setelah Aktif

Banyak perusahaan baru menangani akun palsu setelah ada laporan atau transaksi mencurigakan. Masalahnya, pada tahap tersebut biaya penanganannya sudah jauh lebih besar.

Tim Fraud perlu melakukan investigasi. Tim Customer Service mungkin harus menangani laporan pengguna. Tim Risk perlu mengevaluasi pola serangan. Tim Compliance dapat perlu melakukan review tambahan. Jika sudah ada transaksi, perusahaan juga harus menangani dampak finansial dan operasionalnya.

Karena itu, evaluasi akun fake sebaiknya dimulai dari proses onboarding.

Salah satu cara sederhana untuk melakukan assessment adalah mengambil sampel pendaftaran terbaru dan melihat bagaimana sistem menangani identitas tersebut. Apakah pengguna bisa mendaftar hanya dengan mengunggah dokumen? Apakah selfie dibandingkan dengan foto pada dokumen? Apakah ada liveness detection? Apakah satu wajah bisa digunakan untuk membuat beberapa akun dengan identitas berbeda?

Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat membantu tim menemukan titik lemah dalam alur onboarding yang sedang berjalan.

Semakin awal akun fake dihentikan, semakin kecil biaya yang harus dikeluarkan untuk investigasi dan remediasi setelah akun aktif.

Jika Anda ingin mengevaluasi apakah proses onboarding saat ini masih memiliki celah untuk pendaftaran akun palsu, diskusikan rancangan kontrol identitas bersama tim Verihubs. Tim dapat membantu memetakan kombinasi pemeriksaan yang sesuai dengan volume onboarding, profil risiko, dan kebutuhan bisnis Anda.

Lihat Blog